Postingan

Menampilkan postingan dengan label Islam Nusantara

Panglima TNI: Masjid adalah Pemersatu Bangsa, Islam yang Indah Itu Ditunjukkan di Indonesia

Gambar
SuaraNetizen.com  - Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengajak Dewan Masjid Indonesia untuk menjaga stabilitas politik dan stabilitas keamanan negara. "Dewan Masjid adalah pemersatu bangsa dan mempunyai ribuan bahkan jutaan jumlahnya. Ini berbeda dengan negara lain dimana masjid dibangun oleh pemerintahnya, tetapi di Indonesia rakyatnya yang membangun masjid. Itulah yang luar biasa di Indonesia," kata Panglima TNI saat memberikan pembekalan pada acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Dewan Masjid Indonesia, di Jakarta, Rabu. Pada pembekalannya, Panglima TNI juga menyampaikan tentang perspektif ancaman bangsa Indonesia dimasa depan yaitu, menipisnya cadangan minyak mentah dunia; meningkatnya jumlah penduduk dunia; berkurangnya sumber pangan, air dan energi; masalah terorisme; meningkatnya penyalahgunaan narkoba; dan persaingan ekonomi global yang ketat. "Apabila perspektif ancaman bangsa Indonesia dimasa depan tidak dikelola dengan baik, maka bangsa Indonesia bisa ...

Cak Nun: Nek kowe anggap kabeh syirik, yo modar wae

Gambar
Perempatan Ringin Gamping, Sukoharjo, Jawa Tengah, Senin malam (28/10) diguyur hujan. Tapi tak mampu mengusir ribuan orang yang memenuhi lapangan untuk memperingati hari Sumpah Pemuda dan Pelantikan Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sukoharjo. <> Kegiatan bertajuk Ngaji Kebangsaan itu menghadirkan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun dan Kyai Kanjeng. Ketika Cak Nun naik panggung, iringan tepuk tangan bergemuruh. Cak Nun kemudian memanggil Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya untuk naik atas panggung. Sekali lagi tepuk tangan gemuruh. Cak Nun mengajak para pemuda IPNU maupun GP Ansor terutama bagi Bupati Sukoharjo dan para jamaah yang datang untuk terus melakukan ngaji pikiran agar bisa bener-bener menjadi orang beneran. “Baru menjadi orang sudah bisa mensyirikan orang, apa apa kamu anggap syirik, nyanyi syirik, shalawatan syirik, keris syirik.  “Nek kowe anggap kabeh syirik yo modar wae  (Jika kamu anggap semuanya syirik, mati aja kamu, red),” ungkapnya.  Sonta...

Islam Nusantara Bukan Anti Budaya Arab Tapi Untuk Lindungi Islam dari Arabisasi

Gambar
SuaraNetizen.com  - Disinyalir ada upaya besar untuk MENGGEMBOSI ormas terbesar di Indonesia dan penggiringan opini seolah-olah Nahdlatul Ulama itu sesat dan menyesatkan. Mereka yang tidak suka NU melakukan berbagai cara untuk mengajak umat Islam agar semakin membenci NU. Padahal negara Muslim di seluruh dunia saat ini banyak yang belajar kepada Nahdlatul Ulama tentang bagaimana membina dan mengelola Islam yang damai, ramah, dan santun. Banyak orang mengaku-ngaku sebagai NU Garis Lurus, NU Garis Suci, atau pecinta NU yang justru menghancurkan NU dengan membuat opini-opini yang menebar kebencian dan memunculkan perpecahan. Digiring opini agar orang NU TIDAK PERCAYA lagi pada ulama dan kyai-kyai NU. Tragisnya bahkan orang NU sendiri yang notabene punya pengaruh besar di mata publik ikut terhanyut dalam hasutan dan hinaan oleh mereka para pembenci NU. Tidak dipungkiri gagasan “ISLAM NUSANTARA” bisa menjadi MAGNET BESAR dalam membangun besarnya kekuatan ISLAM di Negara Kesatuan Republi...

Indahnya Islam Nusantara, Menggabungkan Cinta Negara dengan Cinta Islam

Gambar
SuaraNetizen.com - Pada kegiatan Haul ke-22 KH Asrori Ahmad, Senin (16/5) lalu di Tempuran, Magelang, Jawa Tengah, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj tak henti-henti mengingatkan akan indahnya Islam Nusantara. Kiai Said menyebutkan beberapa nama ulama Indonesia beserta karyanya yang masih dikaji di berbagai penjuru dunia. Salah satu di antaranya adalah Syarah Alfiyah oleh Syekh Mahfudz Termas yang menjadi bacaan wajib di Universitas Al-Azhar, Mesir. Ulama Indonesia, jelas Kiai Said, tidak kalah dengan ulama-ulama dari Mesir, Aljazair, Tunisia, dan lain-lain. “Sudah selayaknya kita bangga akan bangsa kita. Islam di Nusantara berkembang oleh Wali Songo dan ulama-ulama yang membawa nilai luhur,” imbuh Pengasuh Pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini. Dijajah selama 350 tahun oleh Belanda saja, tidak sedikitpun kiai dan pesantren terpengaruh oleh budaya mereka. Namun sebaliknya, mentralisir diri untuk mengikuti penjajah. "Untuk apa itu? Ya demi mempertahankan budaya Indo...

Gus Mus: Kalau Dengar Nama Islam Nusantara Ojo Kaget

Gambar
SuaraNetizen.com, REMB ANG  – Umumnya orang Indonesia mengartikan halalbihalal adalah Bahasa Arab. Padahal itu tidak benar. Halalbihhalal adalah murni bahasa Indonesia yang merupakan produk bahasa masyarakat Nusantara. Demikian dikemukakan oleh Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustafa Bisri (Gus Mus) dalam acara halalbihalal dan tahlil tahunan memperingati haul simbah KH Syahid dan Hj Shofiah pengasuh Pesantren Alhamdulillah Desa Kemadu Kecamatan Sulang Kabupaten Rembang, Ahad (10/7). Gus Mus menjelaskan, halalbihalal merupakan produk asli bahasa Indonesia yang sekarang biasa disebut dengan Nusantara. Karenanya penulisan halalbihalal pun harus benar, tanpa menggunakan spasi sebagaimana yang tertulis di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Menurutnya, di dalam Bahasa Arab kata “halal” memang ada. Kata ini dapat diartikan lawan dari kata “haram”. Menulis ‘halalbihalal’ itu tidak menggunakan spasi dikarenakan itu Bahasa Indonesia. Indonesia itu terkenal dengan nama ‘Nusantara’. Jadi kalau deng...

Kyai Said: Nabi Muhammad Mendirikan Negara Madinah, Bukan Negara Islam

Gambar
SuaraNetizen.com - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siraj berpendapat, agama tidak perlu dikonstitusikan. Tapi  agama penting diamalkan oleh pemeluknya di dalam negara itu. Baginya, negara yang secara formal berdasarkan Islam tapi selalu konflik, masyarakatnya banyak korupsi, lebih buruk ketimbang negara yang secara formal tidak berdasarkan Islam tapi  bebas dari ketidakdamaian, hukum tegak,  penduduknya dikenal dengan santun dan sesuai dengan nilai-nilai Islam. Nabi Muhammad sendiri, sambungnya, membangun negara di Yastrib (nama awal Madinah) bukan Negara Islam melainkan Negara Madinah, yakni negara yang beradab. Di sana sudah ada berbagai suku dan agama yang berbeda hidup berdampingan. Ada kaum Muhajirin dari Mekkah, kaum Ansor, Yahudi dan berbagai suku. "Nabi sudah mengajarkan tidak boleh menyakiti dan menzalimi umat non-muslim. Mereka hidup berdampingan satu sama lain," kata Kang Said, sapaan akrabnya, di hadapan keluarga besar Pondok Pes...

Bawa Kesejukan, Ekspedisi Islam Nusantara Disambut Positif di Berbagai Daerah

Gambar
SuaraNetizen.com ~ Wakil Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Heru Sudjatmoko mengungkapkan rasa syukur gembira atas Ekspedisi Islam Nusantara yang digelar PBNU. Ia menyampaikan hal itu di kantornya ketika menyambut kedatangan tim Ekspedisi Nusantara di Semarang, Jawa Tengah, Senin (4/4). Heru mengaku telah mendengar Islam Nusantara yang digagas pada Muktamar ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, tahun 2015 lalu. "Rasanya membawa kesejukan. Insyaallah kesejukan ini tak hanya umat Islam tapi warga bangsa ini, di mana pun berada," ungkapnya. Ia juga mengaku pernah membaca AD/ART NU. Ia menemukan, bagi NU negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) adalah bentuk negara yang final. NU, sambung dia, menjadikan Pancasila sebagai dasar negara. Ini adalah salah satu konsistensi organisasi yang didirikan para kiai mengawal negeri ini. "Mulai didirikan, diperjuangkan, sampai sekarang," tambahnya. Di akhir sambutannya, Heru kembali menyebutkan sepakat atas gagasan Islam Nusantara. Menurut ...

Islam Nusantara Telah Sejalan dengan Dakwah Wali Songo

Gambar
Cara dakwah harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat, sebab masing-masing daerah memerlukan cara yang berbeda. SuaraNetizen.com ~ Rois Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH A'wani Sya'roni menyatakan, perkembangan Islam di Indonesia berbeda dengan di Arab Saudi. " Kalau dulu perjuangan Nabi Muhammad sholallohu alaihi wasallam sampai mengalami peperangan, dilempari batu, bahkan dilempari kotoran oleh orang kafir, tapi di Indonesia tidak ada kiai atau ustadz yang diperlakukan seperti itu," terangnya saat ditemui NU Online di kediamannya, Desa Lodan Kecamatan Sarang, Rembang, Ahad (6/3/). Kiai A'wani menjelaskan, cara dakwah harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat, sebab masing-masing daerah memerlukan cara yang berbeda. Ia mencontohkan, orang Jawa itu lunak, mereka akan mengikuti apa yang dilaksanakan oleh nenek moyang mereka sehingga diperlukan pendekatan yang baik. "Orang Jawa dahulu memuja pohon-pohon besa...

Dakwah Fitnah Wahabi Soal Islam Nusantara Bubar saat Didatangi Lesbumi PBNU, Ustadznya Ngacir Terbirit birit

Gambar
SuaraNetizen.com ~ Perwakilan pengurus Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi PBNU) beserta rombongan dari Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (Padasuka) datang untuk menghadiri acara Kajian Islam bertema “Pemurtadan Terselubung di Balik Gerakan Jaringan Islam Nusantara” yang digelar di Masjid Al-Mujahidin Jl. Anggrek Nelimurni VII Blok A Slipi Jakarta Barat, Ahad (14/2). Acara yang diselenggarakan oleh Panitia Kajian Salafy Jakarta ini dihadiri Ustadz Lukman bin Muhammad Ba'abduh selaku pembicara tunggal. Sebagaimana tertera dalam panflet publikasi yang tersebar sebelumnya, tema pengajian tersebut terbilang cukup provokatif dan berisi tuduhan bahwa gerakan Islam Nusantara merupakan ancaman bagi umat Islam di Indonesia. "Islam Nusantara itu bukan madzab atau aliran baru yang perlu dicurigai macam-macam. Islam Nusantara adalah bentuk sikap kita yang hidup di Nusantara untuk menjalankan keyakinan beragama kita, tanpa harus kita tercerabut dari akar kebudayaan lokal kita...

Islam Nusantara Bukan Berarti Anti-Arab

Gambar
SuaraNetizen.com ~ Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur KH Muhib Aman Aly menyatakan bahwa Islam Nusantara sama sekali tidak antiarab. Hal demikian ini diungkapkannya di hadapan para utusan cabang NU se-Jawa Timur pada acara Bahsul Masail Islam Nusantara di Universitas Negeri Malang, Sabtu, (14/2/2016). “Dengan Islam Nusantara bukanlah berarti bahwa kita anti-Arab,” tegasnya. Ia mengungkapkan bahwa jika saja kita memahami Islam Nusantara sebagai sebuah metode dakwah, maka tidak akan ada kesalahpahaman. Karena sejatinya Islam Nusantara adalah metode dakwah semata. Karena kondisi Nusantara dengan Timur Tengah tidak sama. “Jika saja kita memahami Islam Nusantara, maka tidak akan ada NU garis-garisan. Karena Islam Nusantara adalah cara para wali songo untuk memasukkan Islam ke Nusantara,” paparnya. Selanjutnya, ia menjelaskan tentang pentingnya memasukkan nilai-nilai Islami kepada budaya-budaya lokal sepanjang budaya itu bisa diislamisasi.  Hal ini penting bagi dakwah Islam. Karena dakwah de...

Ironi Gagal Memahami Islam Nusantara

Gambar
SuaraNetizen.com ~ Islam Nusantara memang sudah menjadi kajian akademik dan tidak akan bisa diselesaikan dengan satu dua tahun mengupasnya. Apalagi membahas Islam Nusantara hanya dengan Seminar Nasional dan Bahtsul Masail yang hanya sehari. Ujung-ujung bisa jadi gagal paham dan akan lahir Islam Nusantara Garis Lurus (ISNUSGL). Seharian saya hanya menyimak obrolan di beberapa group diskusi tentang perkembangan Seminar Islam Nusantara di Universitas Negeri Malang (13/2/2016). Walaupun belum tahu apa hasil seminar itu, paling tidak dapat saya catat dua hal menarik. Pertama, merespon dawuh Gus Najih Maimun yang ditulis oleh Gus Hamid Pati bahwa: Gus Najih "menerima" Islam Nusantara yang penting tidak ditunggangi liberal, Syi'ah dan aliran Sesat lainnya. Dan kedua, respon Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang berlebihan dengan provokasi satu Tuhan, satu Rasul, satu syariat Islam dan satu negara khilafah. Artinya mau menegaskan bahwa Islam Nusantara "dianggap" bukan Isl...

Islam Nusantara Tidak Bertentangan Dengan Substansi Islam

Gambar
SuaraNetizen.com ~ Islam sebagaimana dimaklumi adalah agama yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad sholallohu alaihi wasallam, Untuk seluruh umat manusia sebagai rahmat untuk alam semesta (rahmatan li al-‘alamin). Mula-mula Islam diturunkan di wilayah Arab yang kemudian disebarluaskan oleh para juru dakwah ke seluruh penjuru dunia, termasuk ke wilayah Nusantara. Demikian disampaikan oleh Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin melalui akun Facebook pribadinya, Kamis (4/2/2016). “Oleh karena itu, pada prinsipnya tidak ada perbedaan antara Islam yang diturunkan di wilayah Arab dengan Islam yang sampai ke Nusantara. Artinya, eksistensi konsep Islam Nusantara tidak dimaksudkan untuk mengubah Islam yang pernah diturunkan di Arab dan tidak pula anti-Arab,” ujar Gus Ishom. Islam Nusantara, lanjutnya, mengupayakan terwujudnya ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Justru Islam Nusantara lahir karena watak Islam sendiri yang rahmatan li al-‘alamin. Ajaran Islam–sebagaimana juga dimaklumi–se...

Tehnik Tertinggi Para Wali Mengislamkan Tanah Jawa

Gambar
Tehnik 'Suhu' Tertinggi Para Wali Mengislamkan Tanah  Jawa  Miturut almagfurlah simbah Mudjid Ridwan, ternyata penanaman benih keislaman di tanah Jawa/Nuswantara ini memang unik.. Yang menjadi ikon adalah walisongo, namun sebenarnya sebelum walisongo, sudah banyak gerakan-gerakan penanaman tauhid keislaman.    Salah satu yang nuwun sewu, kita tidak sadar bahwa Majapahit, kerajaan Majapahit yang dianggap banyak orang sebagai kerajaan Hindu, bukan kerajaan Hindu..  Majapahit tidak pernah memproklamirkan diri sebagai kerajaan Hindu.. Tapi sebenarnya Majapahit adalah kerajaan yang bertauhid dengan tauhid yang paling sederhana.. Kerajaan Majapahit tidak menyembah Trimurti, juga tidak menyembah Sang Buddha Gautama, tapi Majapahit menyembah Sang Hyang Widhi.. Sang Hyang Widhi iku wis “rodo” tauhid, senajan rung muni Allah.. Ini termasuk salah satu dhawuhe mbah Mudjid Ridwan,.. Salah satu sukses e mpu Supa.. mpu Supa adalah nama samaran dari Maulana Ishak.. abah e Suna...

KH Said Aqil Siradj Meluruskan isu Negatif tentang Islam Nusantara pada Seminar di Sidogiri

Gambar
KH Said Aqil Siradj Meluruskan isu Negatif tentang Islam Nusantara pada Seminar di Sidogiri Pada Ahad 24 Januari 2016, bertempat di Gedung Sekretariat Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, dilaksanakan seminar sehari dengan tema “Solusi Dinamika Islam Kekinian Di Indonesia dan Dunia”. Hadir sebagai narasumber pembicara tingkat nasional dan internasional, yaitu 1. KH. Said Aqil Siraj (Ketua Umum PBNU), 2. KH. Yahya Zainul Ma’arif/ Buya Yahya (Pengasuh PP. Al-Bahjah, Cirebon), dan 3. Habib Abu Bakar al-Adni bin Ali Al-Masyhur (ulama’ terkemuka Timur Tengah, Yaman). Seminar berlevel internasional yang dihadiri oleh Pengasuh Pondok Pesntren se Jawa-Madura ini, merupakan sebuah respon positif atas perbagai pemasalahan yang tengah dihadapi umat Islam saat ini. “Sebagaimana kita tahu bahwa umat Islam sa’at ini tengah dihadapkan pada perbagai dinamika pemikiran bahkan perang pemikiran baik yang berkembang di masyarakat awam atau pun isu nasional dengan munculya istilah “Islam Nusantara” yang men...