Sembilan Naga Tak Perlu Melalui Ahok Untuk Bisa Kuasai Ekonomi Indonesia

SuaraNetizen.com - Mantan ketua Umum PP Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif mempertanyakan kicauan di media sosial yang menyebutkan konglomerat "Sembilan Naga" akan lebih leluasa menguasai ekonomi Indonesia yang memang sebagian besar sudah berada dalam genggaman mereka, melalui Ahok. 

“Benarkan demikian? Jawabannya: tidak salah, tapi tidak perlu melalui Ahok yang mulutnya dinilai liar dan jalang itu,” kata Syafii dalam tulisan opininya yang dimuat di rubrik "Pendapat" Koran Tempo, hari ini.

Kemarin, dalam diskusi bertema "Aksi Bela Islam III-212, Doa Atau Unjuk Rasa dan Prediksinya" di Menteng, Jakarta, pengamat ekonomi Ichsanudin Noorsy mengatakan, masuknya Ahok dalam kontestasi politik Pilkada DKI membawa misi kepentingan konglomerasi yang ingin merebut kekuasaan di Indonesia. 

Noorsy melihat, para pemilik modal itu juga hendak berkuasa secara politik di Tanah Air melalui pintu masuk Ahok. “Andaikata tidak sukses di Pilkada 2017, mereka akan maju pada Pilpres 2019,” kata Noorsy.

Dalam tulisan opininya hari ini, Syafii Maarif berpendapat, proses penguasaaan ekonomi Indonesia oleh segelintir konglomerat sudah berjalan puluhan tahun. "Jauh tersimpan dalam rahim paruh kedua abad ke-20 setelah kekuasaan Bung Karno terempas. Karena salah langkah dalam mengurus bangsa dan negara," kata Syafii.

Dia juga mempertanyakan, pihak yang memberi fasilitas kepada para naga yang jumlahnya bisa puluhan itu dan bukan sebatas sembilan. Menurutnya, tidak sulit mencari jawaban atas pertanyaan itu karena fasilitatornya adalah penguasa dan pihak perbankan Indonesia yang sebagian besar beragama Islam.

"Sekali lagi, sebagian besar beragama Islam," katanya.

Pihak-pihak inilah yang menurut Syaffi, memberi surga kepada para naga itu untuk menguasai dunia bisnis di negeri ini. 

Dia juga memasukkan para pihak ini ke kategori mental anak jajahan sekalipun sering berteriak sebagai patriot sejati. 

"Mungkin juga, berbisnis dengan kalangan sendiri belum tentu selalu taat janji, karena tidak jarang yang punya mental menerabas," ujar Syafii.

Dia karena itu, mengajak negara membuat terobosan untuk mendidik warganya ke arah pemberdayaan anak bangsa secara keseluruhan agar punya mental manusia merdeka yang terampil berbisnis, bukan manusia hamba yang lebih senang tetap menjadi wong cilik.

“Kita harus jujur kepada diri sendiri: mengapa mereka yang mengaku sebagai warga negara tulen tidak punya mental kuat dengan disiplin tinggi agar uang menjadi jinak di tangan mereka?” katanya.

Dia berpendapat, masyarakat harus melihat cara berbisnis konglomerat. Sekali memasuki dunia bisnis, perhatiannya 100 persen tercurah untuk keperluan itu. 

"Jika terpaksa jadi jongos dalam perusahaan teman kita ini, sifatnya mestilah sementara, untuk kemudian semua kemahiran dagang mereka kita ambil alih. Jangan tetap setia jadi jongos sampai ke liang kubur," ujar Syafii. (Rimanews)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemilik dan Penggagas Kafe Jamban ternyata Seorang Dokter, Gini Awal Mula Munculnya

Anies-Sandi Janjikan Subsidi 80 Persen Air Bersih Bagi warga DKI

BJ Habibie Tulis Surat Minta Jokowi Batalkan Eksekusi Zulfiqar Ali, ini alasannya