Bantuan dari Lembaga Ust Bachtiar Nashir Banyak ditemukan di Markas Teroris Suriah, Ngeri Deh
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
"Mereka tidak membiarkan kami makan bahkan untuk sepotong roti,” katanya, “Kami sekarat karena kelaparan, dan kami terbiasa tidur setiap malam dalam keadaan lapar,” tambahnya dalam video yang pertama kali diunggah dua hari lalu itu.
Dalam video itu, banyak yang penasaran terkait logistik yang diangkut dari markas Jaysh al Islam yaitu pada detik 0.51 terlihat jelas logistik itu ada tulisan dan logo: “Indonesian Humanitarian Relief” (IHR).
Menurut laporan republika.co.id (26/6), IHR merupakan lembaga penyalur bantuan kemanusiaan untuk rakyat Suriah yang dipimpin Bachtiar Nasir, Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).
Dalam menyalurkan bantuan ini, IHR yang bermitra dengan Sinergi Foundation bekerjasama dengan lembaga kemanusiaan terbesar di Turki, yakni IHH (İnsan Hak ve Hürriyetleri) Insani Yardim Vakfi. Karena itu, bantuan masyarakat Indonesia yang berhasil dikumpulkan untuk Suriah dibawa oleh Tim IHR – Sinergi Foundation ke Istanbul, Turki.
“Hal tersebut dilakukan untuk menunjukkan dukungan rakyat Indonesia bagi pemerintah dan rakyat Turki, yang saat ini menampung sekitar 3 juta pengungsi Suriah. Turki adalah negara penampung pengungsi terbesar saat ini,” kata Bachtiar dalam jumpa pers yang digelar Jumat (24/6) seperti dikutip republika.co.id.
Lalu mengapa bantuan IHR berada di markas Jaysh al Islam, bukan di tangan pengungsi atau warga sipil Aleppo? Di sisi lain, kata peneliti Nahdlatul Ulama – Rumail Abbas, Bachtiar Nasir dalam websitenya pun tidak menyinggung logistik salah sasaran.
“Saat Aleppo dibombardir, dia masih menggalang dana,” kata Abbas di akun twitternya @Stakof (24/12).
Barangkali Bachtiar memang tidak tahu bahwa bantuan IHR jatuh ke tangan pemberontak yang dinilai sebagai kelompok teroris. Tapi setidaknya kemungkinan itu telah diingatkan oleh sejumlah pihak, termasuk Ketua Ikatan Ulama Suriah Prof Taufiq Ramadhan Al Bouthi yang pernah berkunjung ke Indonesia.
Jika ditelusuri lebih jauh lagi, selain di IHR, Bachtiar Nasir juga aktif memimpin Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS) yang selama ini mengkampanyekan pengumpulan dana bantuan untuk Suriah. Dilaporkan oleh website yang bernaung di bawah FIPS, bumisyam.com, Bachtiar Nasir pernah bertolak ke Turki pada 25 April 2013 untuk tujuan Suriah. Dan keberangkatan Bachtiar ke Tanah Syam, – seperti diberitakan websitenya, – sebagai ketua FIPS.
Meski website fips.or.id telah “suspended” hingga tidak bisa diakses, bumisyam.comtetap aktif mengkampanyekan misi FIPS dengan jargon ‘Save Aleppo’ disertai nomor rekening. Jika ditelusuri pemberitaan bumisyam.com soal Suriah, setidaknya ada 11 pemberitaan dengan kata kunci “Jaysh al Islam”. Berbeda dengan sebagian pandangan, bumisyam.com menilai Jaysh al Islam merupakan kelompok pejuang atau mujahidin.
Dalam hal ini, Rumail Abbas mengingatkan kembali, “Sebelum Anda menyalurkan fulus ke IHR, mending tagih penjelasan Bachtiar Nasir: kenapa gudang pemberontak ada logistik IHR? Kalau dipikir-pikir, Bachtiar Nasir kan memang satu lapak dengan pengusung khilafah. Jays Al-Islam & ISIS pun pendukung hal yang sama.”
Pada 25 Desember 2015 misalnya, bumisyam.com menyebut faksi-faksi pejuang di Aleppo telah membentuk koalisi mujahidin yang disebut ‘Fatah Aleppo’. Langkah ini diambil untuk meniru kesuksesan rekan-rekan mereka di Idlib yang memperoleh kemajuan luar biasa terhadap pasukan rezim. Faksi-faksi yang menyatakan bergabung dan membentuk ‘Fatah Aleppo’ terdiri dari Jaysh al-Islam, al-Shamiya, Fastaqem Kma AMRT, Ahrar al-Sham, Fajr al-Khilafah, al-Sham revolusioner dan al-Sham Legiun.
Setahun kemudian, tepatnya 16 Desember 2016, pemerintah Suriah beserta koalisinya mengumumkan pembebasan Suriah dari para pemberontak bersenjata termasuk kelompok Jaysh al Islam yang meninggalkan sisa bantuan logistik di markasnya, Aleppo.
Sebelum berhasil direbut oleh pemerintah setempat, euronews.com melaporkan (14/12), kelompok-kelompok pemberontak “pecah kongsi” dan saling serang satu sama lainnya. Kekejaman yang dilakukan Jays al Islam atas warga sipil selama di Aleppo membuat Damaskus memasukkannya dalam daftar teroris.
Adapun mitra IHR di Turki, yaitu IHH Yardım Vakfı, juga pernah dilaporkan terseret ke dalam skandal yang terkait dengan kelompok teroris di Suriah. Bahkan eks Ketua Divisi Operasi Anti-Teror Kepolisian Nasional Turki Ahmad Sait Yayla, di medium.com (16/9), menjelaskan bahwa IHH merupakan refleksi yang akurat terkait “hubungan gelap” antara pemerintahan Turki dan “grup jihadis”.
Pada 3 Januari 2014 misalnya, harian Hurriyet – media Turki berhaluan moderat – melaporkan, polisi Turki menemukan sejumlah amunisi dan senjata di dalam truk bantuan atas nama IHH yang ditujukan ke grup jihadis di Suriah. Sayangnya, Pemerintah Erdogan melarang peliputan media ketika pengadilan atas temuan ini berlangsung. Tak hanya itu, pemerintah menuding Fethullah Gulen dan jaringannya berupaya melemahkan pemerintah atas skandal ini.
Menurut Sait, meski mengkambinghitamkan Gulen, bukti adanya kerjasama pemerintah Turki dan IHH benar-benar akurat. “Secara tidak langsung, saya terlibat sejak awal dalam penyelidikan kontra-terorisme atas (kasus) IHH ini,” katanya seperti dikutip medium.com (16/9).
“Pemimpin IHH ditangkap sebagai hasil dari proses penyelidikan waktu itu. Dari bukti-bukti yang kami peroleh, menunjukkan bahwa lembaga ini berada di belakang yang selama ini mendukung ISIS. IHH menyediakan senjata dan amunisi kepada kelompok-kelompok jihadis, bukan hanya ISIS,” tambah Sait.
Bagaimana dengan bantuan masyarakat Indonesia via IHR yang juga bekerjasama dengan IHH? Bagi Abbas, kecurigaan dan kekhawatiran tentu perlu. “Di tengah kebingungan konflik di Suriah, pemaparan publik soal ini jelas penting,” kata pria asal Jepara ini.
Bukan tidak mungkin, kata Rumail Abbas, Bachtiar Nasir memberikan bantuan kepada Jays Al-Islam. Sebab dia dan kelompok pemberotak mempunyai kesamaan garis perjuangan. Yakni sama-sama mendambakan tegaknya khilafah.
“Kalau dipikir-pikir, Bachtiar Nasir kan memang satu lapak dengan pengusung khilafah. Jays Al-Islam & ISIS pun pendukung hal yang sama,” katanya.
Dia meminta Bachtiar Nasir mengklarifikasi persoalan ini. Apalagi dana itu berasal dari umat Islam yang diniatkan membantu masyarakat Aleppo di Suriah. Kalau tidak, Rumail Abbas menyarankan masyarakat tidak lagi memberikan bantuan kepada Indonesian Humanitarian Relief.
“Tapi sebelum Anda menyalurkan fulus ke IHR, mending tagih penjelasan Bachtiar Nasir: kenapa gudang pemberontak ada logistik IHR?”katanya.
Berikut cuitan lengkap Rumail Abbas di akun Twitternya:
1. Saat Aleppo dikuasai regim, pemberontak (Jays Al-Islam) pun kabur.Saat dilucuti, masyarakat Aleppo menemukan gudang logistik pemberontak.
2. Dalam makanan-minuman, ternyata ditemukan logistik kiriman IHR (Indonesian Humanitarian Relief) di gudang pemberontak.
3. IHR itu dipimpin Bachtiar Nasir, promotor aksi 212 & 411, gurun ideologis Teuku Wisnu, dan belum ngasih klarifikasi.
4. Dalam website-nya, Bachtiar Nasir pun tidak menyinggung logistik salah sasaran. Saat Aleppo dibombardir, dia masih menggalang dana.
5. Bahkan di kota-kota besar, seperti kawan saya yang mengabarkan di Balikpapan, akan terjadi penggalangan dana besar-besaran.
6. Tagline-nya sih: menggalang dana untuk masyarakat Aleppo (yang dibantai regim).
7. Penggalangan dana itu perlu untuk Aleppo. Kota yang sudah remuk ini perlu dana besar agar terbangun lagi.Via IHR pun boleh. Tapi…
8. … Tapi sebelum Anda menyalurkan fulus ke IHR, mending tagih penjelasan Bachtiar Nasir: kenapa gudang pemberontak ada logistik IHR?
9. Kalau dipikir-pikir, Bachtiar Nasir kan memang satu lapak dengan pengusung khilafah. Jays Al-Islam & ISIS pun pendukung hal yang sama.
10. Saya hanya khawatir. Curiga tentu perlu. Di tengah kebingungan konflik di Suriah, pemaparan publik soal ini jelas penting.
11. Dari nama, IHR itu sudah “belut”; berpotensi mempermudah pengiriman dan tidak mencurigakan kepabean bandara dan dermaga to?
12. Na’udzubillah deh kalau ternyata bantuan antum malah didistribusikan ke pemberontak. Na’udzu banget.
Sampai sekarang belum ada klarifikasi dari Bachtiar Nasir terkait kabar ini. (SN)






Komentar
Posting Komentar